Kendari,
Suararakyatindonesianews.com – Dilansir dari beberapa postingan di media sosial Facebook, yang di bagikan oleh masyarakat yang perduli atas kebaikan sang pahlawan dari sopir mobil yang tewas atas penghianatan dari kebaikan nya.
Dedi Wahyudin adamah seorang sopir angkutan umum yang berusia 54 tahun asal Konawe yang hari hari nya mengantar penumpang rute Kendari Bombana, kini menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Senin pagi, 5 Mei 2025.
Dedi meninggal dunia setelah tiga hari dirinya berjuang melawan rasa sakit dari luka tusukan di dada dan perutnya.
Luka itu bukan akibat kecelakaan atau ulahnya sendiri tapi hasil dari pengkhianatan orang yang tidak bersyukur atas kebaikan sang sopir mobil.
Atas kebaikan Dedi Wahyudin, dia telah meninggalkan 3 orang yang masih pelajar dan sang istri yang dia sayangi.
Kejadian itu bermula pada Jumat malam, tanggal 2 Mei 2025, atau sudah menjelang subuh tanggal 3 Mei 2025, di kawasan Terminal Baruga, Kendari.
Diketahui bahwa sang pahlawan dari penghianatan ini ( Dedi ) selalu mangkal di terminal baruga, menunggu penumpang rute Kendari–Bombana.
Malam itu, Dedi melihat seorang pria asing duduk sendiri, tampak lapar dan kelelahan sehingga Dedi yang dikenal baik menghampirinya lalu membelikan makanan, minuman, bahkan rokok, dan mengajak pria itu beristirahat di dalam mobilnya agar terhindar dari gigitan nyamuk.
Namun sayang seribu sayang niat baik itu dibalas dengan pengkhianatan dari seorang yang tak dikenal.
Dedi saat tertidur langsung di pukul kepala nya dengan batu disaat bangun sempat melawan namun sayang sang penghianat mencabut badit dan menikam Dedi.
Dalam keadaan bersimbah darah, Dedi masih mampu menyeret tubuhnya menuju Polsek Baruga dengan menggunakan mobilnya untuk meminta pertolongan dan melaporkan apa yang dia alami.
kemudian dia berupaya keras untuk ke RSUD Bahteramas Kendari demi keselamatan nya namun Dedi butuh operasi secepatnya. Tapi sayang nya biaya operasio sebesar kurang lebih dari Rp 20 juta menjadi tembok penghalang keselamatan Dedi.
Dedi dengan penuh mata berkaca kaca mengatakan bahwa
“ Saya cuma ingin sembuh. Anak-anak saya masih sekolah. Saya tidak punya penghasilan lain, ” Ucap Dedi dalam kondisi lemah, beberapa saat sebelum ia meninggal
Pihak keluarga sempat berharap ada bantuan dari pemerintah atau uluran tangan masyarakat namun waktu tidak menunggu dan Dedi telah menghembuskan nafas terakhirnya pada senin pagi dengan membawa luka dan harapan yang belum terwujudkan
Kini Polisi sampai saat ini masih memburu pelaku yang kabur usai melakukan penyerangan terhadap sopir yang menyelamatkan rasa lapar sang pelaku.
Dedi Wahyudin, pergi sebagai pahlawan kecil yang membawa pesan besar bahwa:
” di negeri ini kadang kebaikan pun bisa tumbang hanya karena uang dan birokrasi Dan meski raganya telah tiada “.
Laporan: Redaksi


